Oleh: dialogislambandung | Desember 19, 2011

UMROH 2012

PROGRAM UMROH TAHUN 2012

Jadwal pemberangkatan :
Tanggal 5 Maret 2012 (12 hari)

Biaya dan akomodasi Umroh :
$ 1.650 + Rp. 1.000.000 (handling)

Syaratan Pendaftara Umroh :
1. membayar uang muka pada saat pendaftaran sebesar $ 500.
2. menyerahkan dokumen berupa:
a. Pasport yang masih berlaku minimal 8 bulan dan nama sudah 3 suku kata
b. Kartu Keluarga Asli
c. Buku nikah asli (bagi peserta suami istri)
d. Akta kelahiran asli (wanita di bwh 45 thn/lelaki di bwh 17 thn)
e. photo copy KTP 3 lembar
f. Bagi wanita di atas 45 tahun harus KTP asli
g. Pas photo berwarna dengan background putih, wajah zoom 80%, berkerudung bagi wanita
ukuran 4 x 6 = 7lembar, dan 3 x 4 = 6lembar
3. Persyaratan dokumen di serahkan 2 bulan sebelum pemberangkatan
4. Anak2 di bwh usia 12 tahun biaya 75% dari paket dewasa
5. Pelunasan 1 bulan sebelum keberangkatan

Pendaftaran dan pembayaran :
Kantor kesekertariatan Dialog Islam :
1. Jl. Srimahi Raya no 32 Bandung
Tlp. 022 520 4090
2. Radio Garuda, Jl. Moch. Ramdhan 49A Bandung
Tlp. 022 734 79 333 / 022 721 75 19

*contac person :
Hj. Dian Rosdiani 08122416333
Fadhil Fauzani Rahman 08562299913

 

*Pemberangkatan brikutntnya bulan mei dan juni info bisa langsung ke kantor kami

Oleh: dialogislambandung | September 30, 2010

Umroh dan Haji plus Dialog Islam Bandung

PROGRAM UMROH TAHUN 2010

Jadwal pemberangkatan :
Tanggal 10 Maret 2011 (11 hari)
Tanggal 15 Mei 2011 (11 hari)

Biaya dan akomodasi Umroh :
$ 1.650 + Rp. 1.000.000 (handling Air port PP, Perlengkapan Hotel, Transportasi, dan Makan)

Syaratan Pendaftara Umroh :
1. membayar uang muka pada saat pendaftaran sebesar $ 500.
2. menyerahkan dokumen berupa:
a. Pasport yang masih berlaku minimal 8 bulan dan nama sudah 3 suku kata
b. Kartu Keluarga Asli
c. Buku nikah asli (bagi peserta suami istri)
d. Akta kelahiran asli (bagi peserta yg membawa putra-putri)
e. photo copy KTP 3 lembar
f. Bagi wanita di atas 45 tahun harus KTP asli
g. Pas photo berwarna dengan background putih, wajah zoom 80%, berkerudung bagi wanita
ukuran 4 x 6 = 7lembar, dan 3 x 4 = 6lembar
3. Persyaratan dokumen di serahkan 3 minggu sebelum pemberangkatan
4. Anak2 di bwh usia 12 tahun biaya 75% dari paket dewasa
5. Pelunasan 15 hari sebelum keberangkatan

Pendaftaran dan pembayaran :
Kantor kesekertariatan Dialog Islam :
1. Jl. Sukamenak 170A Bandung
Tlp. 022 5422 637
2. Radio Garuda, Jl. Moch. Ramdhan 49A Bandung
Tlp. 022 734 79 333 / 022 721 75 19

*contac person :
Hj. Dian Rosdiani 08122416333
Fadhil Fauzani Rahman 08562299913

Oleh: dialogislambandung | Mei 4, 2010

Tanggapan Sekilas Dzikir Bersama

Maraknya aktitas berdzikir di berbagai tempat, telah menggelitik kami untuk mengkritisinya. Demikian juga dengan terbitnya buku yang mengangkat masalah dzikir, yaitu “Zikir Berjama’ah Sunnah Atau Bid’ah” dan “Hakikat Dzikir”. Yang pertama merupakan karya dari KH Drs.Ahmad Dimyathi Badruzzaman, MA dan yang kedua ditulis oleh Muhammad Arin Ilham.
Dzikir, memang merupakan salah satu perbuatan yang diperintahkan Allah dalam AlQur’an dan Rasulullah dalam hadits-hadits Beliau. Bagi seorang mukmin, sudah seharusnya memperbanyak dzikir kepada Allah. Allah berfirman,Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya pada waktu pagi dan petang. (QS Al Ahzab: 41, 42).
Perintah untuk memperbanyak dzikir ini, di kalangan ulama tidak terjadi perbedaan Demikian pula dalil yang dibawakan tidak terjadi perbedaan. Yang kemudian menjadi permasalahan, ialah menyangkut haiah (bentuk) dzikir yang disyari’atkan. Sedangkan ayat-ayat yang memerintahkan masih bersifat umum. Yakni perintah berdzikir di manapun berada dan ketika memiliki kesempatan.
Bagaimanakah dengan cara berdzikir bersama yang sekarang ini marak?
Disalin dari majalah Assunnah edisi 01/VIII/1425H hal 37 – 41, dan hal 49, serta sebagian dari hal 24 – 25, 27 – 28 untuk catatan kaki.

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas, kami telah mewawancarai Ustadz. Aunur Riq Ghufran 1 dan Ustadz Mubarak Bamuallim 2, yang kami tuangkan dalam tulisan berikut. Kemudian kami olah dengan beberapa tambahan maraji’ (rujukan).
Namun, karena keterbatasan tempat, maka kami tidak dapat mengangkat secara
menyeluruh. Kami hanya mengangkat sebagian dari buku Zikir Berjama’ah Sunnah Atau Bid’ah (selanjutnya disebut ZBSB). Semoga bermanfaat.

SOAL:
Penyusun buku ZBSB menyatakan di halaman 58: Pada firman-firman Allah SWT diatas, yakni QS Al Ahzab ayat 41: Udzkurullah, QS Ali lmran ayat 191: Yadzkuruunallaah dan QS Al Ahzab ayat 35: Adz Dzaakirinallaah dan Adz Dzaakiraat, ditilik dari sisi tata bahasa Arab, semuanya itu menggunakan dhamir jama’ / plural (antum, hum dan hunnah) bukan dhamir mufrad / singular (anta, huwa, dan hiya). Hal ini jelas mengisyaratkan bolehnya dan dianjurkannya dzikir secara berjama’ah.

TANGGAPAN:
Istidlal 3 sepeti ini sangat lemah. Karena banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menggunakan dhamir jama’, tapi tidak bisa difahami demikian. Seperti firman Allah:
Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocoktanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanarm kalian itu bagaimana saja kalian kehendaki. (QS Al Baqarah: 223).
Apakah ayat ini bisa difahami, bahwa menggauli isteri dapat atau dianjurkan secara
bersama-sama? Tidak ada seorang ulamapun yang memahami seperti ini.
Misalnya juga firman Allah dalam surat Al Jumu’ah ayat 10: Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan berdzikirlah kalian kepada Allah banyak-banyaknya supaya kamu beruntung. (QS Al Jumu’ah:10).
Bagaimana dia memahami kalimat udzkurullah (berdzikirlah kalian) dalam ayat ini?
Padahal ayat ini sangat jelas, bahwa berdzikir ini setelah Allah memerintahkan untuk
3Istidlal berdalil / menggunakan dalil untuk suatu pemahaman.
bertebaran. Ini menunjukkan, bahwa dzikir itu tidak mesti harus bersama; bahkan dzikir berjama’ah dengan satu suara tidak ada contohnya. Seandainya ada contoh dari para salafush shalih, kami akan melaksanakan dan kami akan mendukungnya.Misalnya lagi, Allah berfirman dalam surat Al Anfal ayat 45
Hai, orang-orang yang beriman. Apabila kamu nnemerangi pasukan (musuh),
maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya
agar kamu beruntung. (QS Al Anfal: 45).
Apakah pemah ada riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi dalam suatu peperangan memimpin para sahabatnya berdzikir dengan satu suara? Padahal peperangan sangat banyak dan riwayat mengenai kejadian dalam medan tempur juga banyak. Ini menunjukkan, bahwa dzikir disini, meskipun menggunakan dhamir jama’, tetapi dalam pelaksanaannya secara sendiri-sendiri.
Ayat keempat, dalam surat Al Baqarah ayat 198, Allah berfirman:Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkanNya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.
Masy’aril Haram adalah nama sebuah bukit di Muzdalifah. Seandainya dhamir jama’ difahami dengan bolehnya dzikir secara bersama-sama dengan dikomando, tentu Rasulullah sudah memberikan contoh, atau Beliau memerintahkan kepada para sahabat untuk membuat halaqah dzikir, lalu berdzikir dengan satu suara; karena pada saat itu ada kesempatan dan banyak orang yang sedang berkumpul. Namun kami belum menemukan satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa Nabi dan para sahabat melakukan hal itu di Masy’aril Haram. Padahal, mereka merupakan generasi terbaik yang sangat bersemangat dalam berbuat kebaikan. Memang disyari’atkan mengeraskan suara dalam bertalbiah, tetapi tidak dipimpin; masing-masing bertalbiyah secara sendiri-sendiri. Dan ini ada riwayat yang memerintahkannya.
Manakala Rasulullah tidak melakukannya, padahal Beliau mempunyai kesempatan dan tidak ada sesuatu yang menghalangi Beliau; ini menunjukkan bahwa perbuatan itu (Dzikir bersama) tidak disyari’atkan. Kesimpulannya, ini adalah dalil-dalil umum. Untuk melaksanakannya perlu contoh dari RasuLullah dan para sahabat. Lebih-lebih Yang berkaitan dengan cara beribadah. Karena dzikir termasuk cara beribadah.

SOAL:
Disamping membawakan dalil-dalil dari Al Qur’an, penyusun buku ZBSB juga membawakan dalil dari hadits-hadits. Dikatakannya, banyak sekali hadits-hadits yang dengan tegas menjelaskan tentang disyari’atkannya dzikir berjama’ah. Dalam buku ZBSB penyusun membawakan sepuluh hadits di halaman 58-70, yang menurutnya sebagai hujjah.

TANGGAPAN:
Dalam melakukan suatu amal ibadah, harus berdasarkan iImu. Demikianlah kaidah umum yang sudah dipahami oleh semua orang; baik yang shalih ataupun oleh yang menyimpang. Bedanya, kalau orang yang shalih, ia mendahulukan iImu terlebih dahulu sebelum beramal. Sebaliknya, yang menyimpang, justru sering atau kadang lebih mendahulukan amal, kemudian setelah itu mencari legitimasi dari dalil. Kalau iImu yang dldahulukan; tentunya sebelum melakukan satu ibadah, terlebih
dahulu harus mengetahui cara-caranya Setelah itu melaksanakannya sesuai dengan dalil-daliI dan contoh praktisnya dari Rasulullah dan para sahabat Beliau. Tidak cukup hanya berdasarkan dalil umum, lalu kita laksanakan. 4
Mengenai hadits-hadits yang dibawakan dan digunakan sebagai dalil dzikir bersama,
misalnya:
4Mengenai beramal dengan dalil umum, lihat naskah yang ditulis Ustadz Abu Ihsan Al Atsari dalam majalah As-Sunnah edisi 01/VIII/1425H rubrik Mabhats. Berikut kami salinkan sebagiannya apa yang dimaksud.
Syaikh Ali Hasan Al Halabi Al Atsari dalam buku beliau Ilmu Ushul Bida’ menulis sebuah pasal berjudul “Pasal ketujuh: Petunjuk Salaf dan Penggunaan Nash-nash Umum”. Beliau berkata, “Kolerasi antara pembahasan ini dengan bid’ah sangatlah erat dan menyangkut beberapa permasalahan yang mendetail. Sebab, banyak sekali orang yang berdalil dengan nash-nash umum untuk mendukung bid’ah mereka. Namun sebenarnya itu merupakan kekeliruan yang besar dan berlawanan dengan kaidah yang sangat penting dalam ilmu ushul, seperti yang akan dijelaskan nanti, insya Allah.
Sebagai contoh. Andaikata sejumlah orang masuk ke dalam masjid untuk shalat atau untuk menghadiri majlis ilmu. Begitu masuk, salah satu seorang dari mereka mengusulkan agar mereka mengerjakan shalat tahiyyatul masjid berjama’ah. Namun sebagian dari mereka mengingkari dan membantahnya. Lantas orang itu berdalil dengan hadits:
‘Shalat seorang lelaki bersama orang lain lebih baik daripada shalatnya sendirian. Dan shalatnya bersama dua orang yang lain lebih baik daripada shalatnya bersama satu orang.’ Akhirnya, mereka terpecah menjadi dua pendapat. sebagian ada yang menyetujui dalil dan alasan tersebut, dan sebagian lainnya menyelisihinya. Sebab dalil tersebut digunakan tidak pada tempatnya.” (Ilmu Ushul Bida’,hal. 138).
Syaikh Ali Hasan kemudian menukil perkataan Imam Asy Syathibi: fi… Banyak engkau temui Ahli Bid’ah dan sesat berdalil dengan Al Qur’an dan As Sunnah, membawakan keduanya menurut kesesuaian madzhab mere-
ka dan menghamburkan dalil-dalil mutasyabihat (syubhat-syubhat) kepada orang-orang awam. Sementara itu mereka mengira berada di atas kebenaranfi. Kemudian beliau melanjutkan (III/77): Oleh karena itulah, wajib atas setiap orang yang menemukan dalil syar’i, agar memahaminya seperti yang dipahami oleh generasi awal terdahulu dan bagaimana bentuk (cara, Red.) mereka mengamalkannya. Itulah yang lebih dekat dengan kebenaran dan lebih lurus dalam ilmu dan amal.

Tidaklah berkumpul satu kaum di satu rumah diantara rumah-rumah Allah, mereka membaca dan saling mengajarkan Kitabullah diantara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, dilimpahkan kepada mereka rahmat dan mereka dikelilingi para malaikat dan Allah menyebut mereka
di kalangan para malaikat yang ada di sisiNya. 5
Syahid mereka dalam hadits ini adalah kalimat dan tidaklah berkumpul satu kaum. Menurut mereka, ini menunjukkan bahwa dzikir berjama’ah itu disyari’atkan. Kami katakan: hadits ini tidak menunjukkan dlsyari’atkannya dzikir atau do’a secara berjama’ah dengan dipimpin, ataupun membaca Al Qur’an dengan satu suara secara bersama sebagaimana diamalkan oleh sebagian kaum muslimin zaman ini, khususnya majlis dzikir Adz Dzikra yang dikomandoi Muhammad Arifin Ilham saddadallah khutaahu.
Maksud hadits ini, yaitu berkumpul mengkaji ayat-ayat AI Qur’an untuk memahami makna dan tafsirnya.
Imam Nawawi mengatakan,
“Dalam hadits inI terdapat dalil keutamaan berkumpul untuk membaca Al Qur’an dimasjid. Inilah madzhab kami dan madzhab jumhur.” 6 Namun bukan dengan satu suara. Prakteknya, ialah sebagaimana dilakukan oleh para ulama sunnah. Yaitu membaca sendiri dengan suara pelan, atau satu membaca,sedangkan yang lainnya mendengar, sebagaimana dicontohkan dalam hadits Bukhari,no. 4582. 7

5HR Muslim, kitab Adz Dzikru Wad Du’a, no. 6793: Syarah Muslim, hlm. 24 juz 17.
6Syarah Muslim, hlm. 24 jilid 17.
7Lihat naskah yang ditulis Ustadz Abu Ihsan Al Atsari dalam majalah As-Sunnah edisi 01/VIII/1425H. Rubrik Mabhats. Berikut kami salinkan sebagiannya apa yang dimaksud.
… Apabila satu kaum berkumpul untuk mengingat nikmat-nikmat Allah atau mempelajari ilmu -jika mereka adalah para ulama- atau diantara mereka ada seorang alim,lalu mereka duduk belajar kepadanya; atau mereka berkumpul saling mengingatkan satu sama lainnya untuk berbuat ketaatan dan menjauhkan diri dari kemaksiatan; atau yang
biasa dilakukan oleh Rasulullah dengan para sahabat dan dilakukan oleh para tabi’in. Majelis-majelis seperti itu termasuk majelis dzikir yang telah disebutkan janji pahala dan balasannya. Seperti yang dihikayatkan oleh Ibnu Abi Laila, ia ditanya tentang qashash (melantunkan kisah-kisah). Ia berkata, Aku telah bertemu para sahabat Muhammad, mereka duduk bermajelis, masing-masing menyampaikan hadits yang telah mereka dengar. Bukan duduk seperti khatib, akan tetapi seperti yang kita saksikan di masjid-masjid, yakni berkumpulnya para pelajar di depan seorang mu’allim yang memba-
6
Syaikh Al Albani mengatakan dalam ta’liq Riyadush Shalihin, him.146: “Yatadarasun, maknanya adalah sebagian anggota ikut serta dalam bacaan
cakan Al Qur’an kepada mereka, atau mengajarkan ilmu-ilmu syari’at; atau berkumpulnya orang-orang awam di depan orang mu’allim, lalu mengajari mereka masalah-masalah agama; mengingatkan mereka kepada Allah; menjelaskan kepada mereka Sunnah NabiNya agar mereka dapat mengamalkan serta menjelaskan kepada mereka perkara-perkara bid’ah, yang tidak lain merupakan kesesatan; agar mereka dapat menghindarinya dan menjauhi tempat-tempatnya serta tidak mengamalkannya. Itulah majelis-majelis dzikir yang Allah jauhkan darinya Ahlul Bid’ah dari kalangan tasawuf. Mereka melatahi perbuatan orang-orang jahil (bodoh red.vbaitullah.or.id) seperti diri mereka juga. Mereka membaca hadits-hadits Nabi dan ayat-ayat Al Qur’an, lalu memahaminya menurut akal mereka; bukan menurut perkataan Ahli Ilmu.
Akibatnya mereka keluar dari jalan yang benar. Mereka berkumpul, salah seorang dari mereka membaca Al Qur’an. Yang dipilih untuk membacanya adalah yang bagus suaranya, bagus lagu dan iramanya; mirip seperti nyanyian yang tercela.
Kemudian mereka mengatakan, “Marilah kita berdzikir!” Lalu mereka mengangkat suara, maka gema dzikirpun bergulir diantara mereka. Satu kelompok di satu sudut, dan kelompok lain di sudut yang lain. Berdzikir dengan satu suara mirip seperti nyanyian. Mereka mengira, itulah majelis dzikir yang dianjurkan. Mereka dusta! Sekiranya benar, tentu Salafush Shalih lebih dahulu mengetahui, memahami dan mengamalkannya. Lantas manakah dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah maupun Ijma’ yang menunjukkan bolehnya dzikir yang disuarakan bersama dengan satu suaradan dengan suara keras? Bukankah Allah telah berfirman, Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS Al A’raf: 55).
Dalam tafsir disebutkan, bahwa yang dimaksud orang-orang yang melampaui batas adalah orang-orang yang mengangkat suara dalam berdo’a.
Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari, ia berkata, “Kami bersama Rasulullah dalam sebuah safar. Lalu orang-orang menyaringkan suara takbir mereka. Rasulullah bersabda,
Pelankanlah suara-suara kalian. Sesungguhnya kalian tidaklah menyeru Rabb yang tuli lagi ghaib. Kalian menyeru Rabb Yang Maha Mendengar lagi Maha dekat, dan Dia bersama kalian.Hadits ini merupakan tafsir dari ayat di atas. Para sahabat tidaklah menyuarakan takbir
7
sebagian yang lain. Dan menjaga hafalan, karena ditakutkan lupa.” Dan membaca Al Qur’an boleh dilakukan dimana saja, kecuali di tempat-tempat yang dilarang, seperti: kuburan, WC atau yang lainnya. Jadi, makna yatadarasun disini, yaitu masing-masing membaca Al Qur an, atau satu
orang membaca dan yang lainnya meneliti untuk mengoreksi jika terjadi kesalahan, sebagaimana yang disebutkan dalam Faidhul Qadir, dalam riwayat Imam Ahmad, 2/407:
“Mereka membaca dan mempelajari Kitabullah. Mereka saling belajar kepada yang lain”.
Adapun membaca Al Qur’an secara berjama’ah dengan satu suara, tidak masuk ke dalam makna hadits di atas, dan perbuatan seperti itu termasuk bid’ah, seperti dikatakan Imam Syathibi dalam I’tishom, 1 /357-388. Perbuatan seperti ini juga diingkari oleh Imam Malik, sebagaimana tersebut dalam At Tibyan, karya Imam Nawawi.
Contoh dalil lainnya yang dibawa oleh penulis ZBSB untuk mengesahkan amalan
dzikir berjama’ah, yaitu firman Allah dalam hadits qudsi:
Allah berfirman, “Aku menurut keyakinan hambaKu dan Aku bersamanya jika ia berdzikir kepadaKu. Jika ia menyebutKu di dalam dirinya, Akupun menyebutnya di dalam diriKu. Dan jika ia menyebutKu dalam satu kelompok, maka Aku menyebut mereka dalam satu kelompok yang lebih baik dari mereka. (HR Bukhari, 6856). 8
Yang menjadi syahid penulis buku ZBSB adalah kalimat “jika dia menyebutKu dalam satu kelompok” atau dengan terjemahan penulis buku ZBSB “kalau ia berzikir (mengingat)
bersama-sama dengan satu suara. Bahkan Rasulullah melarang mereka mengangkat suara dan menganjurkan supaya mereka mengamalkan kandungan ayat di atas. Dan telah dinukil dari Salafush Shalih larangan berkumpul untuk berdzikir dan berdo’a seperti berkumpulnya kaum Ahli Bid’ah. (Al I’tisham, I/194-196).
Lebih lanjut, silahkan membaca As-Sunnah edisi 01/VIII/1425H
8Penulis buku ZBSB menerjemahkan hadits ini dalam bukunya sebagaimana berikut ini:
Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya apabila ia berdzikir (mengingat) Aku. Kalau ia berdzikir kepada-Ku secara tersembunyi (dalam hatinya saja), Aku pun ingat pula kepadanya seperti itu, kalau ia berdzikir (mengingat) Aku dalam majelis, maka Aku pun ingat pula kepadanya dalam majelis yang lebih baik dari itu (yaitu majelis malaikat).
8
Aku dalam majelis.” 9Disini juga tidak disebutkan secara jelas bolehnya berdzikir dengan dikomando. Bahkan penafsiran seperti ini bertentangan dengan atsar Ibnu Mas’ud yang mengingkari halaqah dzikir dengan dikomando. Inilah penafsiran terbaik berkenaan dengan dzikir jama’ah; sebuah tafsir yang bersumber dari sahabat Rasulullah.
Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Ash Shahihah, 5/13 mengatakan,
“Dalam kisah ini terdapat pelajaran bagi kaum thariqat dan kelompok-kelompok dzikir yang menyelisihi Sunnah. Jika ada yang mengingkari mereka, mereka (balik) menuduhnya telah mengingkari dzikir. Padahal (mengingkari dzikir) adalah perbuatan kufur. Tidak mungkin ada seorang muslim
di dunia ini yang mengingkarinya. Namun yang diingkari ialah bentuk dan perkumpulan dzikir, yang tidak pernah ada pada zaman Nabi. Kalau bukan, lantas apa yang diingkari Abdullah bin Mas’ud atas diri mereka?
Bukankah yang beliau ingkari adalah berkumpulnya pada hari tertentu dan dzikir dengan bilangan bilangan yang tidak ada dalilnya; yang hanya ditentukan oleh ketua halaqah mereka. Seakan-akan, dia itu sebagai pembuatsyari’at.” 10
Keterangan yang disampaikan Syaikh Al Albani ini, berbeda dengan yang disampaikan Ja’far Umar Thalib di Majalah Salafy, edisi 2 tahun ke 5 hlm.70 yang hanya membatasi pengingkaran Ibnu Mas’ud sebatas cara dzikir yang menghitung dzikir dengan batu, bukan pengingkaran terhadap dzikir bersama yang dilakukan tersebut. 11
Masih banyak lagi hadits yang mereka bawakan sebagai dalil dalam melakukan dzikir
jama’ah. Lihat buku Hikmah Dzikir Berjama’ah, oleh Debby Nasution dan
Muhammad Arifin Ilham. Lihat juga buku Zikir Berjama’ah Sunnah Atau Bid’ah, oleh K.H. Drs. Ahmad Dimyathi Badruzzaman M.A.
Namun hadits-hadits yang mereka bawakan, semuanya bersifat umum dalam masalah majlis dzikir. Tidak ada satupun hadits yang mereka bawakan, menjelaskan secara terang (jelas) tentang cara berdzikir yang dipimpin, atau dengan satu suara seperti yang mereka lakukan.
Adapun mengenai disyari’atkannya majlis dzikir itu sendiri, tidak ada khilaf di kalangan ulama.
9Kami persilahkan untuk melihat matan hadits nya yang berbahasa Arab karena (mohon maaf atas keterbatasan kami,) kami tidak bisa menyediakannya untuk anda. (red. vbaitullah.or.id)
10Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, hlm. 13 jilid 5.
11Selanjutnya kami persilahkan pembaca untuk memilih, siapa diantara dua orang ini (Syaikh Al Albani
atau penulis di Majalah Salafy) yang lebih faham tentang hadits?!
9
SOAL:
Prof. KH Ali Musthafa Yaqub, MA mengatakan,
“Tampaknya kita sepakat bahwa dalil-dalil untuk dzikir, baik dari AI Qur’an maupun Hadits-hadits Nabi Saw, tidak dipersoalkan lagi ….., maka muncul-nya perbedaan itu adalah karena adanya perbedaaa penafsiran atas dalil-dalil itu, bukan karena ada atau tidaknya dalil-dalil itu. Perbedaan ini merupakan suatu hal yang wajar-wajar saja, karena kita semuanya tidak pernah hidup bersama Nabi Saw. Kita tidak pernah mengetahui secara langsung bagaimana kelompok-kelompok shahabat itu berdzikir, kemudian hal itu direstui Nabi Saw. Kita hanya mengetahui dalil-dalil itu melalui riwayat-
riwayat yang dinukil kepada kita dari generasi ke generasi.
TANGGAPAN:
Perkataan ini, datang dari orang yang kurang atau belum membaca kitab sirah para sahabat. Lihat kitab sirah yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, atau kitab An Nihayah yang ditulis oleh Ibnu Katsir. Semua perkataan dan perbuatan serta safar mereka yang berkaitan dengan din (agama) ini dibukukan; sehingga, meskipun kita tidak hidup di zaman mereka, tetapi kita bisa mengetahuinya.
SOAL:
Prof. KH Ali Musthafa Yaqub MA juga mengatakan:
Di dalam shalat juga terdapat dzikir perorangan (ad-dzikr al fardi), seperti ketika masing-masing makmum membaca kalimat-kalimat thayyibah didalam shalat mereka. Demikian pula di adalam shalat terdapat dzikir berjama’ah yang dikeraskan suaranya (al-dzikr al-jahri aljama’i), misalnya ketika
makmum secara bersama-sama membaca lafal “Amin”. (Lihat hlm. xxx).
Kemudian di halaman (xxxiv) dia menyatakan Sekiranya dzikir berjama’ah itu bid’ah sesat, tentunya bersama-sama membaca “Amin” pada waktu shalat berjama’ah atau ketika berdo’a bersama
juga disebut bid’ah dan sesat. Dan ternyata tidak ada satu pun ulama yang mengatakan seperti itu.’
10
TANGGAPAN:
Pendapat seperti ini adalah sebuah kesalahan dalam memahami masalah in. Perlu diketahui, bahwa perkataan “Amin” di dalam shalat berjama’ah itu ada contoh dan dalilnya.Rasulullah bersabda,
Dan jika imam membaca waladh dhaaalliiin, maka ucapkanlah Aamiin 12
Rasulullah juga bersabda,
Apabila qari’ membaca “Amin”, maka ucapkanlah “Amin”. Sesungguhnya Malaikat mengamini, Barangsiapa yang ucapan “Amin”nya serempak (bersama) dengan ucapan “Amin” para melaikat, maka dia diampuni dosanyayang telah lewat. (HR Bukhari).
Perbuatan ini tidak bisa dikatakan bid’ah, karena ada contoh dari Nabi. Demikian juga makmum mengucapkan “Amin” dengan suara keras itu secara serempak, hanya dilakukan setelah imam selesai membaca Al Fatihah. Demikian ini tidak bisa dianalogikan kecara ibadah yang lain. Buktinya, ketika imam membaca salah satu ayat yang mengandung do’a, makmum tidak disyari’atkan membaca “Amin” secara bersama-sama. Jadi, masalah dzikir yang dikeraskan atau dikomando dalam shalat, tidak bisa diqiyaskan kepada cara ibadah yang lain. Sebab ini berkaitan dengan masalah cara ibadah. Dalam kaidah ushul dikatakan:
Hukum dasar dalam masalah ibadah itu adalah diharamkan, kecuali apa yang ditunjukkan dalil atas perubahan hukum dasar ini. Pendapat yang mengqiyaskan dzikir berjama’ah dengan “Amin”nya makmum dalam shalat jahr, baru pertama kali ini kami baca. Dan sekali lagi, pendapat demikian itu
adalah keliru. Hadahullah wa saddada khutahu.
SOAL:
Ja’far Umar Thalib menulis di Majalah Salafy, sebagai berikut: Semua pengingkaran para Ulama sebagaimana tersebut, telah saya pelajari dan ketika semua itu saya teliti pada malelis dzikir yang dipandu oleh saudara Muhammad Arifin Ilham, hal-hal kemungkaran tersebut tidak saya dapati dan bila kadang-kadang terdapat pada sebagian yang hadir, maka pemandu segera menegurnya dan melarangnya. 13

12HR Muslim dalam kitab shalat.
11
TANGGAPAN:
Berkenaan dengan komentar penulis ini saddadallahu khutahu, wallahu a’lam, apakah ia benar-benar sudah meneliti sesuai dengan ilmu yang disampaikan oleh para ulama, ataukah hanya sekedar ucapan kosong yang tidak ada bukti, ataukah sekedar untuk ini dan itu? Kami memberikan tanggapan sebagai berikut:
Bukan karena kami su’uz zhan atau curiga, tetapi murni karena ketidaktahuan kami dalam masalah kebenaran ungkapan ini, dan ketidak tahuan kami berkaitan dengan masalah hati seseorang. Dan memang, tidak akan ada orang yang tahu isi hati seseorang, kecuali Allah.
Semoga saja penelitiannya itu benar-benar dilakukan secara obyektif berdasarkan fakta di lapangan. Jika penelitian itu benar-benar dilakukan, lalu penulis berkomentar sebagaimana di atas, akan menimbulkan tanda tanya besar. Bagaimana mungkin kesalahan-kesalahan yang begitu fatal tidak terlihat?
Kami melihat dalam majlis dzikir yang dipandu oleh saudara Muhammad Aritin llham
saddadallahu khuthaahu, terdapat beberapa kejanggalan
1. Menentukan waktu tertentu untuk berkumpul dan berdzikir dengan menentukan bilanganbilangan dzikir tertentu. Perbuatan seperti ini telah diingkari yang oleh Ibnu Mas’ud seorang sahabat, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Al Albani. Disini memang terdapat perbedaan persepsi tentang hadits Ibnu Mas’ud ini. Kami telah menyampaikan keterangan Syaikh Al Albani mengenai atsar ini (seperti telah kami sebutkan di atas). Sedangkan Ja’far Umar Thalib, penulis di Majalah Salafy itu tidak menjelaskan sumber perkataan yang ia sampaikan.
2. Memakai seragam putih ketika bermajelis. Memang memakai pakai putih dianjurkan; bahkan Nabi bersabda,
Pakailah baju kalian yang warna putih, sesungguhnya ia termasuk pakaian terbaik kalian dan kafanilah jenazah kalian dengannya. (HR Tirmidri, Abu Dawud dan Ahmad).
13Lihat Majalah Salafy, hlm. 70, edisi 2 tahun ke-5.
12
Namun menentukan warna putih untuk keperluan atau pada waktu-waktu tertentu perlu dalil. Mungkin ada yang mengatakan “Itu hanya kebetulan saja. Tidak ada ketentuan yang mengharuskan”. Kalau memang seperti maka tidak ada masalah Tetapi kami pernah mendengar langsung dari salah seorang takmir masiid di Solo mengumumkan tentang ketentuan seragam ini. Wallahu a’lam.
3. Menangis dan dishoting.
Seorang hamba yang beriman kepada Allah dan RasuINya, adalah orang yang bertaqwa dan takut kepada Allah. Ada beberapa ayat Al Qur’an yang menerangkan keadaan orang-orang shalih yang banyak menangis ketika mengingat atau mendengar ayat Allah. Salah satunya sebagaimana dijelaskan Allah dalam surat Maryam ayat 58:
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Isroil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (QS Maryam:58).
itulah salah bukti ketaqwaan seseorang kepada Allah; demikian juga ketika berdzikir. Boleh saja menangis karena takut kepada Allah. Namun yang dipermasalahkan, realita yang kita saksikan dari majelis dzikir Muhammad Ilham Arifin; mereka menangis, lalu tangisan mereka ditayangkan di layar-layar kaca, sehingga disaksikan oleh ribuan bahkan mungkin jutaan orang. Sedangkan para nabi dan para ulama, mereka menangis dalam kesendirian dan tidak mau diketahui oleh orang lain, karena akan sangat berpengaruh pada keikhlasan.
Memang tidak ada yang bisa mengetahui hati manusia. Tetapi alangkah baiknya, jika tangisan itu disembunyikan. Sungguh berbeda jikalau shotingan itu tanpa disengaja. Misalnya, saat seseorang berdo’a sambil menangis, lalu tiba-tiba ada yang menshoting tanpa sepengetahuan yang berdo’a; kemungkinan keilshlasannya tidak terganggu, Namun kalau acaranya direncanakan, lalu menangis dan dishoting, ini dikhawatirkan akan merusak keikhlasan orang. Dan perlu kita ingat, syetan itu sangat pintar dalam menyesatkan manusia.
13
4. Yaitu menentukan jenis-jenis dzikir tertentu, tanpa ada dalil. Misalnya, memasukkan berbagai jenis dzikir ke dalam Dzikir Taubat, seperti tertulis dalam buku Hakikat Zikir Jalan Taat Menuju Allah , oleh Muhammad Arifin Ilham,
halaman 129-137. Apakah ada dalil yang menunjukkan lafadz-lafadz yang disebutkan di halaman-halaman tersebut merupakan dzikir jama’ah? Jika tidak ada,maka kita kembalikan ke kaidah ushul dalam ibadah, seperti disebutkan di atas pada halaman 11.
5. Kelima, Berdzikir dengan lafadz-lafadz yang tidak disyari’atkan, seperti lafadz:
Ya Nabi, salaamun `alaika
Ya habibu, salamun `alaika
Ya rasulu, salaamun `alaika
Shalawatullah `alaika
Sebatas yang kami ketahui, belum pernah ada ayat ataupun hadits yang mengajarkan shalawat kepada Nabi dengan lafadz seperti ini. Dan sekali lagi, penulis buku Hakikat Dzikir Jalan Taat Menuju Allah tidak menjelaskan dalil dan sumber pengambilannya. Padahal ini termasuk ibadah. Dan ibadah itu tauqifiyyah, (bersumber dengan wahyu).
Para shahabat mengtahui, bahwa shalawat kepada NabI itu diperintahkan. Akan tetapi mereka tidak serta-merta melaksanakannya. Mereka terlebih dahulu bertanya kepada Rasulullah tentang cara bershalawat kepada Beliau. Lalu Beliau pun mengajarkan kepada mereka.
Mengenai macam-macam shalawat ini, bisa dilihat di kitab Shifat Shalatin Nabi karya syaikh Al Albani, hlm. 165-167.
Itulah beberapa kejanggalan dalam majlis dzikir yang dikomandani Muhammad Arifin Ilham. Kejanggalan-kejanggalan ini begitu tampak jelas. Sehingga sangatlah mengherankan ungkapan yang disampaikan penulis di Majalah Salafy tersebut.
SOAL:
Dalam buku Zikir Berjama’ah Sunnah Atau Bid’ah, karya KH Drs. Ahmad Dimyathi Badruzzaman, MA, disebutkan: Berzikir dengan suara nyaring itu, pada prinsipnya disyari’atkan, namun yang tidak disyari’atkan itu menyaringkan suara ketika berdzikir 14 secara berlebih-lebihan. Dia membawakan penafsiran Ibnu katsir terhadap ayat Al A’raf 205 yang berbunyi: 14
TANGGAPAN:
Apa yang mereka sampaikan ini, adalah bantahan atas mereka, bukan hujjah yang mendukung mereka. Dalam kalimat itu, dianjurkan agar tidak mengeraskan suara. Sementara itu, mereka berdzikir dengan mengeraskan suara, bahkan sangat keras. Untuk lebih jelas permasalahan dzikir dengan suara nyaring, kami persilakan pembaca untuk membaca naskah-naskah yang ditulis oleh para ulama, seperti dalam kitab Tashihud Du’a, karya Syaikh Bakar Abu Zaid hafizhahullah atau yang lainnya. Inilah sekilas tanggapan. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita dan men-jadikan kita orang-orang yang ikhlas dalam beramal. Wallahu a’lam.
14Tidak ditulis artinya di majalah As Sunnah (hanya tulisan arabnya saja). Dan kami tidak berani sembarangan menterjemahkan tafsiran Ibnu Katsir tersebut. (red. vbaitullah.or.id)
*dari berbagai sumber.

Oleh: dialogislambandung | Maret 30, 2010

cinta dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah Ta’ala berfirman :
Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)
Ayat ini menerangkan bahwa tanda dari kecintaan kita kepada Allah adalah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bahwa mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sarana untuk mendapatkan kecintaan dan ampunan dari Allah Ta’ala.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
” Seseorang di antara kamu belum beriman sehingga aku lebih dicintainya daripada kedua orangtua, anaknya dan seluruh manusia.” HR. Bukhari dan Muslim.
dalam diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat akhlak yang mulia, keberanian dan kemuliaan. Barangsiapa melihatnya secara tiba-tiba akan takut kepadanya, dan barangsiapa yang bergaul dengannya maka dia akan mencintainya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan risalahnya, memberi nasihat kepada umat, mempersatukan kalimah, membuka beberapa hati manusia bersama para sahabatnya dengan mempersatukan mereka dan membuka banyak negeri dengan perjuangan mereka untuk membebaskan manusia dari penyembahan sesama manusia menuju penyembahan terhadap Tuhan manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya telah menyampaikan kepada kita agama Islam secara sempurna tanpa tercampur dengan bid’ah dan khurafat, dan tidak perlu ditambah atau dikurangi.
Allah berfirman :
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. QS. 5:3)
Oleh karenanya, ikutilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dan janganlah menambah-nambah atau membuat syari’at yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula pernah dikerjakan oleh para sahabatnya, dengan demikian mudah-mudahan Allah memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang benar dalam keimanan mereka kepada-Nya sehingga Allah memenuhi janji-Nya kepada mereka.
Allah berfirman :
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. 33:21)
Dan ketahuilah bahwa cinta kepada Allah dan RasulNya yang benar mempunyai konsekuensi untuk melaksanakan kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih, melaksanakan hukum dengan berpegang teguh kepada keduanya dan tidak boleh mendahulukan pendapat orang atas keduanya.
Allah berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 49:1)
Ya Allah, karuniailah kami untuk mencintai dan mengikuti RasulMu, berakhlak dengan akhlaknya dan memperoleh syafa’atnya.

Oleh: dialogislambandung | Maret 30, 2010

PENGERTIAN BID’AH MENURUT SYARI’AT (2)

PENGERTIAN BID’AH MENURUT SYARI’AT (2)

[C] Hal Yang Baru Ini Tidak Berlandaskan Syari’at, Baik Secara Khusus
Maupun Umum.

Dalil batasan (syarat) ini adalah sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wasallam:

“Artinya : Sesuatu yang bukan darinya.”

Dan sabdanya:

“Artinya : Yang tidak ada dasarnya dalam urusan kami.”

Dengan batasan ini, maka keluar dari pengertian bid’ah hal-hal baru yang berhubungan dengan agama, tapi mempunyai landasan syar’i yang umum ataupun khusus.

Di antara sesuatu yang baru dalam agama ini tapi masih berlandaskan pada dalil syar’i yang umum adalah hal-hal yang ditetapkan melalui al-mashalih al-mursalah, seperti pengumpulan Al Qur’an oleh para sahabat, adapun contoh yang khusus adalah pelaksanaan shalat tarawih secara berjama’ah pada zaman Umar bin Khaththab.

Dengan melihat makna lughawi (bahasa) untuk kata al-ihdats, maka hal-hal yang berlandaskan kepada dalil syar’i dapat dinamakan muhdatsat, karena hal-hal syar’i ini dilakukan kedua kalinya setelah ditinggalkan dan dilupakan (orang), ini adalah ihdats nisbiy (pengada-adaan yang relatif).

Sudah dimaklumi bahwa setiap hal yang baru keabsahannya telah ditunjukan oleh dalil syar’i, maka hal ini tidak dinamakan -dalam kacamata syariat- sebagai bentuk ibtida’ (mendatangkan bid’ah), karena ibtida’ menurut pandangan syariat- hanya dikaitkan dengan sesuatu yang tidak mempunyai dalil.

Supaya lebih jelas dan lebih yakin tentang tiga batasan itu, berikut kita simak ungkapan para ulama berikut ini:

Ibnu Rajab berkata: “Setiap orang yang mengada-ada sesuatu yang baru dan menisbatkannya kepada agama, padahal tidak ada landasan yang bisa dijadikan rujukan, maka hal semacam ini adalah sesat dan agama lepas
darinya.” [Jamiul Ulum wal Hikam 2/128]

Beliau juga berkata : “Dan yang dimaksud dengan bid’ah adalah sesuatu yaug diada-ada yang sama sekali tidak mempunyai dasar tujukan dalam syariat”.

Adapun sesuatu yang mempunyai dasar rujukan dari syariat, maka tidak dinamai bid’ah, meskipun secara bahasa masih dikatakan bid’ah.” [Jamiul Ulum wal Hikam 2/128]

Ibnu Hajar berkata: “Dan yang dimaksud sabda nabi “Setiap bid’ah itu adalah sesat”, yaitu sesuatu yang diada-adakan, sedangkan dia tidak mempunyai dalil syar’i, baik dalil khusus maupun umum.” [Fathul Bari 13/253]

Beliau juga berkata: “Dan hadits ini (yaitu hadits : Barangsiapa mengada-ada sesuatu dalam urusan agama kami ini yang padahal bukan termasuk bagian di dalamnya, maka di tertolak) termasuk kaidah yang utama dalam agama Islam, karena sesungguhnya orang yang mendatangkan sesuatu yang baru dalam agama ini, padahal tidak termasuk dalam salah satu pokok (ajaran Islam), maka dia akan tertolak.” [Fathul Bari 5/302, lihat juga Ma'arijul Qabuul 2/426 dan Syarhu Lu'matul I'tiqad 23]

Definisi Bid’ah dalam Syari’at

Dari uraian di atas, maka kita bisa menentukan pengertian bid’ah secara syari’at, yaitu hal-hal yang memenuhi tiga batasan di atas, oleh sebab itu definisi bid’ab syar’iyyah secara komprehensif adalah:

“Setiap hal yang diada-ada dalam agama Allah yang sama sekali tidak mempunyai landasan dalil, baik dalil yang umum ataupun yang khusus.”

Atau dengan ungkapan yang lebih ringkas:

“Setiap hal yang diada-ada dalam agama Allah tanpa landasan dalil.”

[Disalin dari kitab Qawaa’id Ma’rifat Al-Bida’, Penyusun Muhammad bin Husain Al-Jizani, edisi Indonesia Kaidah Memahami Bid’ah, Pustaka Azzam]

Oleh: dialogislambandung | Maret 30, 2010

PENGERTIAN BID’AH MENURUT SYARI’AT (1)

PENGERTIAN BID’AH MENURUT SYARI’AT (1)

[A] Al-Ihdats (Mengada-ada) Sesuatu yang Baru

Dalil syarat ini adalah sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam

“Artinya : Barang siapa mengada-ada (sesuatu yang baru).”

Dan sabdanya:

“Artinya : Dan setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah.”

Jadi yang dimaksud al-ihdaats adalah mendatangkan sesuatu yang baru,
dibuat-buat, dan tidak ada contoh sebelumnya. [1]

Maka masuk di dalamnya: segala sesuatu yang diada-adakan, baik yang
tercela maupun yang terpuji, baik dalam agama atau bukan.

Dan dengan batasan ini maka yang tidak diada-adakan tidak dapat disebut bid’ah misalnya melaksanakan semua syi’ar agama seperti shalat fardlu, puasa ramadlan, dan melakukan hal-hal yang sifatnya duniawi seperti makan, pakaian dan lain-lain. Karena hal yang baru itu bisa terjadi dalam urusan duniawi dan urusan agama (dien) untuk itu perlu adanya pembatasan dalam dua batasan berikut ini:

[B] Sesuatu Yang Baru Itu Disandarkan Kepada Agama

Dalil batasan ini adalah sabda Rasuhdlah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Artinya : Dalam urusan (agama) kami ini.”

Dan yang dimaksud dengan urusan nabi di sini adalah agama dan syari’atnya. [Lihat Jami'ul Uluum wal Hikam 1/177]

Maka makna yang dimaksud dalam bid’ah itu adalah bahwa sesuatu yang baru itu disandarkan kepada syari’at dan dihubungkan dengan agama dalam satu sisi dari sisi-sisi yang ada, dan makna ini bisa tercapai bila mengandung salah satu dari tiga unsur berikut ini:

Pertama : Mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan.

Kedua : Keluar menentang (aturan) agama.

Ketiga : Yaitu hal-hal yang bisa menggiring kepada bid’ah.

Dengan batasan (syarat) yang ke dua ini, maka hal-hal yang baru dalam masalah-masalah materi dan urusan-urusan dunia tidak termasuk dalam pengertian bid’ah, begitu juga perbuatan-perbuatan maksiat dan kemungkaran yang baru, yang belum pernah terjadi pada masa dahulu, semua itu bukan termasuk bid’ah, kecuali jika hal-hal itu dilakukan dengan cara yang menyerupai taqarrub (kepada Allah) atau ketika melakukannya bisa menyebabkan adanya anggapan bahwa hal itu termasuk bagian agama.

[Disalin dari kitab Qawaa’id Ma’rifat Al-Bida’, Penyusun Muhammad bin Husain Al-Jizani, edisi Indonesia Kaidah Memahami Bid’ah, Pustaka Azzam]
_________
Foote Note
[1] Sama saja dalam hal ini sesuatu yang diada-adakan untuk pertama kali, karena tidak ada contoh sekelumnya, seperti menyembah patung berhala tatkala awal munculnya, ini adalah mengada-adakan yang mutlak ataupun sesuatu yang diada-adakan untuk kedua kalinya dan telah pernah ada contohnya, kemudian dihidupkan lagi setelah tidak ada dan tenggelam, seperti penyembahan berhala di Makkah, karena sesungguhnya Amr Ibn Luhayy-lah yang pertama kali mengada-adakannya di sana. Ini adalah mengada-adakan yang sifatnya relatif (nisbiy). Di antara hal ini juga segala sesuatu yang disandarkan kepada agama padahal bukan bagian dari agama itu, sebagaimana yang ditunjukan oleh hadits:

“Artinya : Barangsiapa mengada-ada sesuatu yang baru dalam urusan -agama- kami ini, padahal bukan bagian darinya, maka dia itu tertolak”.

Dinamakan sesuatu yang diada-adakan ditinjau dari segi agama saja dan hal ini terkadang tidak disebut sesuatu yang diada-adakan jika ditinjau dari selain agama.

Oleh: dialogislambandung | Maret 30, 2010

PENGERTIAN BID’AH MENURUT SYARI’AT

PENGERTIAN BID’AH MENURUT SYARI’AT

Banyak sekali hadits-hadits nabawi yang mengisyaratkan makna syar’i dari kata bid’ah, di antaranya:

[1] Hadits Al Irbadh Ibnu Sariyah, di dalam hadits ini ada perkataan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Jauhilah hal-hal yang baru (muhdatsat), karena setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” [Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya dan teksnya milik Abu Dawud 4/201 no. 4608, Rmu Majah 1/15 No. 42, At-Tirmidzi 5/44 no. 2676 dan beliau berkata bahwa ini hadits hasan shahih dan hadits ini dishahihkan oleh Al Albaniy dalam Dhilaalul Jannah fii Takhriijissunnah karya lbnu Abi Ashim: no. 27]

[2] Hadits Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berkata dalam khuthbahnya:

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebagus-bagusnya tuntunan adalah tuntunan Mnbammad dan urusan yang paling jelek adalah sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) dan setiap yang diada-adakan (dalam agama) itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setap kesesatan itu (tempatnya) di neraka.” [Dikeluarkan dengan lafadz ini oleh An- Nasa'i dalam As-Sunan 3/188 dan asal hadits dalam Shahih Muslim 3/153. Untuk menambah wawasan coba lihat kitab Khutbat Al-Haajah, karya Al-Albany]

Dan jika telah jelas dengan kedua hadits ini, bahwa bid’ah itu adalah al-mubdatsah (sesuatu yang diada-adakan dalam agama), maka hal ini menuntut (kita) untuk meneliti makna ibda’ (mengada-adakan dalam agama) di dalam sunnah, dan ini akan dijelaskan dalam hadits-badits berikut:

[3] Hadits Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Barangsiapa mengada-ada (sesuatu) dalam urusan (agama) kami ini, padahal bukan termasuk bagian di dalamnya, maka dia itu tertolak.” [Hadits Riwayat Al-Bukhari 5/301 no. 2697, Muslim 12/61 dan lafadz ini milik Muslim]

[4] Dalam Riwayat Lain:

“Barangsiapa mengamalkan amalan yang tidak ada dasarnya dalam urusan(agama) kami, maka dia akan tertolak.” [Hadits Riwayat. Muslim 12/16]

Keempat hadits di atas, jika diteliti secara seksama, maka kita akan mendapatkan bahwa semuanya menunjukkan batasan dan hakikat bid’ah menurut syari’at. Maka dari itu bid’ah syar’iyyah memiliki tiga batasan (syarat) yang khusus. Dan sesuatu tidak bisa dikatakan bid’ah menurut syari’at, kecuali jika memenuhi tiga syarat, yaitu:

1. Al-Ihdaats (mengada-adakan)
2. Mengada-adakan ini disandarkan kepada agama
3. Hal yang diada-adakan ini tidak berpijak pada dasar syari’at, baik secara khusus maupun umum.

[Disalin dari kitab Qawaa’id Ma’rifat Al-Bida’, Penyusun Muhammad bin Husain Al-Jizani, edisi Indonesia Kaidah Memahami Bid’ah, Pustaka Azzam]

Oleh: dialogislambandung | Maret 30, 2010

Sejarah Singkat Imam Malik

Sejarah Singkat Imam Malik

Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta’ (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam. Namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun, ”Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia.”

Sedianya, khalifah ingin agar para jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu diadakan. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Imam Malik. ”Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.” Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil.

Imam Malik yang bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi, lahir di Madinah pada tahun 712 M dan wafat tahun 796 M. Berasal dari keluarga Arab terhormat, berstatus sosial tinggi, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Tanah asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam, mereka pindah ke Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota ilmu yang sangat terkenal.

Kakek dan ayahnya termasuk kelompok ulama hadits terpandang di Madinah. Karenanya, sejak kecil Imam Malik tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota dengan sumber ilmu yang berlimpah lewat kehadiran ulama-ulama besarnya.

Kendati demikian, dalam mencari ilmu Imam Malik rela mengorbankan apa saja. Menurut satu riwayat, sang imam sampai harus menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya. Menurutnya, tak layak seorang yang mencapai derajat intelektual tertinggi sebelum berhasil mengatasi kemiskinan. Kemiskinan, katanya, adalah ujian hakiki seorang manusia.

Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Kendati demikian, ia pernah berguru pada ulama-ulama terkenal seperti Nafi’ bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab az Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi’in ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu berdebat; juga Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.

Dalam usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al Mahdi, Hadi Harun, dan Al Ma’mun, pernah jadi murid Imam Malik. Ulama besar, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Menurut sebuah riwayat disebutkan murid terkenal Imam Malik mencapai 1.300 orang.

Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ”Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.”

Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah, Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan Ja’far, gubernur Madinah. Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah, Al Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai’at (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin penduduk Madinah melakukan bai’at kepada khalifah yang mereka tak sukai.

Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai’at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian paksa. Ja’far meminta Imam Malik tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tapi ditolaknya. Gubernur Ja’far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya. Dengan hal itu, Ja’far seakan mengingatkan orang banyak, ulama yang mereka hormati tak dapat menghalangi kehendak sang penguasa.

Namun, ternyata Khalifah Mansur tidak berkenan dengan kelakuan keponakannya itu. Mendengar kabar penyiksaan itu, khalifah segera mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada sang imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik bermukim di ibukota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan uang 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang imam. Namun, undangan itu pun ditolaknya. Imam Malik lebih suka tidak meninggalkan kota Madinah. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah kecuali untuk berhaji.

Pengendalian diri dan kesabaran Imam Malik membuat ia ternama di seantero dunia Islam. Pernah semua orang panik lari ketika segerombolan Kharijis bersenjatakan pedang memasuki masjid Kuffah. Tetapi, Imam Malik yang sedang shalat tanpa cemas tidak beranjak dari tempatnya. Mencium tangan khalifah apabila menghadap di baliurang sudah menjadi adat kebiasaan, namun Imam Malik tidak pernah tunduk pada penghinaan seperti itu. Sebaliknya, ia sangat hormat pada para cendekiawan, sehingga pernah ia menawarkan tempat duduknya sendiri kepada Imam Abu Hanifah yang mengunjunginya.

Dari Al Muwatta’ Hingga Madzhab Maliki

Al Muwatta’ adalah kitab fikih berdasarkan himpunan hadits-hadits pilihan. Santri mana yang tak kenal kitab yang satu ini. Ia menjadi rujukan penting, khususnya di kalangan pesantren dan ulama kontemporer. Karya terbesar Imam Malik ini dinilai memiliki banyak keistimewaan. Ia disusun berdasarkan klasifikasi fikih dengan memperinci kaidah fikih yang diambil dari hadits dan fatwa sahabat.

Menurut beberapa riwayat, sesungguhnya Al Muwatta’ tak akan lahir bila Imam Malik tidak ‘dipaksa’ Khalifah Mansur. Setelah penolakan untuk ke Baghdad, Khalifah Al Mansur meminta Imam Malik mengumpulkan hadits dan membukukannya. Awalnya, Imam Malik enggan melakukan itu. Namun, karena dipandang tak ada salahnya melakukan hal tersebut, akhirnya lahirlah Al Muwatta’. Ditulis di masa Al Mansur (754-775 M) dan baru selesai di masa Al Mahdi (775-785 M).

Dunia Islam mengakui Al Muwatta’ sebagai karya pilihan yang tak ada duanya. Menurut Syah Walilullah, kitab ini merupakan himpunan hadits paling shahih dan terpilih. Imam Malik memang menekankan betul terujinya para perawi. Semula, kitab ini memuat 10 ribu hadits. Namun, lewat penelitian ulang, Imam Malik hanya memasukkan 1.720 hadits. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dengan 16 edisi yang berlainan. Selain Al Muwatta’, Imam Malik juga menyusun kitab Al Mudawwanah al Kubra, yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban Imam Malik atas berbagai persoalan.

Imam Malik tak hanya meninggalkan warisan buku. Ia juga mewariskan mazhab fikih di kalangan Islam Sunni, yang disebut sebagai Mazhab Maliki. Selain fatwa-fatwa Imam Malik dan Al Muwatta’, kitab-kitab seperti Al Mudawwanah al Kubra, Bidayatul Mujtahid wa Nihaayatul Muqtashid (karya Ibnu Rusyd), Matan ar Risalah fi al Fiqh al Maliki (karya Abu Muhammad Abdullah bin Zaid), Asl al Madarik Syarh Irsyad al Masalik fi Fiqh al Imam Malik (karya Shihabuddin al Baghdadi), dan Bulgah as Salik li Aqrab al Masalik (karya Syeikh Ahmad as Sawi), menjadi rujukan utama mazhab Maliki.

Di samping sangat konsisten memegang teguh hadits, mazhab ini juga dikenal amat mengedepankan aspek kemaslahatan dalam menetapkan hukum. Secara berurutan, sumber hukum yang dikembangkan dalam Mazhab Maliki adalah Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah SAW, amalan sahabat, tradisi masyarakat Madinah (amal ahli al Madinah), qiyas (analogi), dan al maslahah al mursalah (kemaslahatan yang tidak didukung atau dilarang oleh dalil tertentu).

Mazhab Maliki pernah menjadi mazhab resmi di Mekah, Madinah, Irak, Mesir, Aljazair, Tunisia, Andalusia (kini Spanyol), Marokko, dan Sudan. Kecuali di tiga negara yang disebut terakhir, jumlah pengikut mazhab Maliki kini menyusut. Mayoritas penduduk Mekah dan Madinah saat ini mengikuti Mazhab Hanbali. Di Iran dan Mesir, jumlah pengikut Mazhab Maliki juga tidak banyak. Hanya Marokko saat ini satu-satunya negara yang secara resmi menganut Mazhab Maliki.

Oleh: dialogislambandung | Maret 15, 2010

Macam-macam Dzikir

Dzikir Dan Macam-Macamnya

Allah Ta’ala berfirman :

Hai Orang-orang yang beriman, sebutlah Allah (berdzikirlah) dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. ( Al-Ahzab : 41 ).

Berzikir yang terus-menerus merupakan syarat untuk mendapatkan kecintaan dari Allah yang langgeng pula. Allah yang paling berhak untuk dicintai secara menyeluruh , diibadahi, diagungkan dan dimuliakan.

Pekerjaan yang termasuk paling bermanfaat bagi seorang hamba adalah berzikir yang banyak. Zikir bagi hati itu laksana air bagi ladang pertanian, bahkan seperti air bagi ikan, ia takkan hidup tanpa air.

Zikir itu bermacam-macam :

1. Berzikir dengan menyebut asma Allah dan sifat-sifat-Nya, serta memujinya dengan menyebut asma dan sifat-Nya.
2. Tasbih ( mensucikan Allah dengan mengucapkan : Subhanallah ), tahmid ( memuji Allah dengan mengucapkan : Al-hamdu lillah ), takbir ( mengagungkan Allah dengan mengucapkan : Allahu Akbar), Tahlil (mengucapkan la ilaha illallah yang artinya tidak ada tuhan yang haq kecuali Allah) serta memuliakan Allah. Ini merupakan lafal zikir yang paling banyak diucapkan oelh kalangan orang-orang yang belakangan atau pada dewasa ini.
3. Berzikir dengan hukum-hukum Allah, perintah-perintah-Nya serta laranganan-larangan-Nya dan ini merupakan zikir ahli ilmu. Bahkan ketiga zikir ini merupakan zikir mereka kepada Rabb-nya.
4. Berzikir dengan firman-Nya yaitu dengan Al-Qur’an. Ini termasuk zikir yang paling utama. Allah berfirman :
Dan barangsiapa yang berpaling dari zikir-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. 20:124)
Yang dimaksud dengan zikir-Ku adalah kalam Allah yang telah diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu al-Qur’an.
Allah berfirman :
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. 13:28)
5. Berdzikir dengan berdo’a kepada Allah, beristighfar (mohon ampunan) dan merendahkan diri di hadapan Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk mengikuti cara berdzikir beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Kelima macam cara berdzikir di atas merupakan cara berdzikir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berdzikir kepada Allah harus sesuai dengan yang telah disyari’atkan oleh Allah dan sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya, bukan bid’ah seperti yang dikerjakan oleh kaum sufi. Mereka berdzikir dengan dzikir yang dibuat-buat dan diada-adakan. Contohnya mereka menyebut : hu… hu… yang menurut mereka lafadz itu termasuk asma Allah. Dzikir semacam ini tidak dibenarkan sama sekali. Begitu juga mengenai bacaan shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam harus sesuai dengan yang terdapat dalam sunnah seperti shalawat Ibrahimiyyah ( yang dibaca pada tahiyyat dalam shalat ) dan lainnya yang sesuai dengan sunnah.

Oleh: dialogislambandung | Januari 29, 2010

Hukum Menyambung Rambut

Bagaimana Hukum memakai sobrah?

Sobrah atau cemara yang artinya memperpanjang,menyambung rambut dengan menyambungnya, agar sanggul menjadi besar atau rambut menjadi panjang, itu terlarang.

Dalam hadits perbuatan tersebut diatas dinamakan alWaashilah, yang berarti menyambung rambut, baik dengan rambut asli, dengan benang sutera atau dengan kain, itu termasuk waashilah, menyambung.

Sabda Rasulullah s.a.w.

La’ana ‘LLahu alwaashilata wa ‘lMustawasshilata wa ‘lWaasyimata wa ;lMustausyimata ( H. Bukhori )

“Allah telah mela’nat perempuan yang memakai cemara, dan yang minta dipakaikan cemara, dan perempuan yang mencacah dan minta dicacah” ( Hadits Bukhori)

Hadits ini terlalu jelas, tidak perlu akan tafsir lagi, dan disamping itu hadits-hadits shahih serupa  banyak sekali.

Dalam Hadits Bukhori : A’isyah diriwayatkan adanya perempuan yang sakit, yang menyebabkan  rambutnya rontok, kemudian orang-orang hendak memakaikan kepadanya cemara, tetapi Rasulullah melarangnya.

Pada zaman Mu’awiyyah ada diketemukan cemara, kemudian Mu’awiyyah diatas mimbar berkata,”Mana ulama-ulama kalian? aku telah mendengar dari Rasulullah melarang akan cemara seperti ini!” Kemudian dikatakannya bahwa telah binasa Bani Israil tatkala perempuan-perempuannya mengenakan cemara ( Bukhori- Muslim)

Islam tidak melarang mengobati rambut agar tumbuh kembali, atau agar rambut tumbuh panjang. Tapi bagi orang Islam sebenarnya panjang ataupun pendek rambut tidak menjadi soal, sebab sudah ada hijab (jilbab)  yang akan menutupnya

Yang menjadi keutamaan bagi setiap muslimah adalah memakai jilbab (hijab) tentunya akan menutup rambutnya.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.